Google+ Followers

Senin, 03 Mei 2010

MANAJEMEN MENINGKATKAN KUALITAS SUMBERDAYA MANUSIA PENDIDIKAN

MANAJEMEN
MENINGKATKAN KUALITAS SUMBERDAYA MANUSIA PENDIDIKAN
Oleh :
Jaya Mulya, M.Pd.I

1. Pendahuluan
Pada masa era globalisasi dan moderenisasi saat ini, tentunya semua Negara di muka bumi termasuk juga Negara kita membutuhkan terwujudnya kualitas sumberdaya manusia yang unggul, baik dalam kehidupan pemerintahan yang baik (good government) atau pun dalam kehidupan bermasyarakat (good civilization).
Diskursus tentang masalah sumber daya manusia, termasuk kepemimpinan (leadership), dan kenegarawanan (statesmanship) tidak mungkin dilakukan dalam kehidupan yang lorong yang kosong. Hal yang demikian lahir sebagai suatu konsekwensi logis dari prilaku dan budaya manusia yang terlahir sebagai individu yang memiliki ketergantungan social (Aristoteles: Homo Socioloogicusi Zoon Politicon) yang sangat tinggi dengan membutuhkan adanya kerjasama untuk mencapai tujuan.
Dengan melalui pendidikan dan pelatihan serta aktipitas lainya dapat meningkatkan kualitas sumberdaya manusia pendidikan, untuk dapat menguasai ilmu pengetahuan kita dapat menjelaskan (to explain), menggambarkan (to describe) segala kenyataan atau fakta yang lebih lengkap dan jelas, mengungkap (to reveal) segala hal yang ada di belakang fakta dan memperkirakan (to Predict) apa yang akan terjadi di masa depan secara ter ukur (measurable)dan memberikan alternative penyelesaian masalah secara obyektif.
Pemahamandan makna filosofis perubahan karakter dan kualitas sumberdaya manusia pendidikan, memberikan arti yang signifikan dalam mencerdaskanmanusia dan bangsa Indonesia, dan kenyataan pula banyak orang tidak menyadari adanya suatu proses untuk berpikir manajemen dan membangun karakter kualitas sumberdaya manusia pendidik, serta adanya proses pembelajaran baik secara pribadi maupun melalui lembaga pemerintahan atau swasta.
Mengapa kita harus berpikir managemen dan membangun karakter kualitas SDM pendidikan?. Hal ini dapat kita jawab dengan jelas mana kala kiata salah menggeluti tentang manajemen atau salah berpikir tentang manajemen, maka tentu segala usaha kita akan menemui kegagalan, namun apabila kita benar dalam mengatur atau berpikir tentang manajemen, tentunya semua usaha atau program kita akan menghasilkan prestasi yang berkualitas, termasuk prestasi kualitas SDM pendidikan.
2. Pengertian Manajemen Meningkatkan Sumber Daya Manusia Pendidikan
Manajemen (management) : “ketetalaksanaan proses penggunaan sumberdaya secara efektif untuk mencapai sasaran tertentu, pimpinan yang bertanggung jawab atas jalannya perusahan atau organisasi”.
Meningkatkan (to increase, to develop) atau membuat jadi yang tadinya lemah menjadi kuat, yang tadinya malas menjadi giat, yang tadinya jelek menjadi baik, yang tadinya tak berdaya guna menjadi berdaya berdaya guna, yang tadinya tak punya nilai menjadi bernilai.
Sedangkan pengertian sumber daya manusia pendidikan adalah sumber kekuatan yang dimiliki oleh seluruh komponen manusia yang berada dalam linkungan pendidikan, seperti pendidik, anak didik, kependidikan, dan lingkungan disekitar pendidikan.
Dengan demikian pengertian Manajemen Meningkatkan Sumber Daya Manusia Pendidikan adalah Ketatalaksanaan proses penggunaan sumberdaya manusia yang berada didalam lingkungan pendidikan agar dapat meningkatkan sumberdayanya dengan secara efektif hingga dapat mencapai tujuan pendidikan seutuhnya.
3. Pembahasan

A. Penyelenggaraan Pendidikan
Proses penyelenggaraan pendidikan sangat di pengaruhi oleh Kualitas Tenaga Pendidik, dan Kependidikan, serta fasilitas pendidikan dan lingkungannya. Khususnya kualitas sumber daya pendidik, seperti guru, Dosen, Pimpinan Sekolah Perguruan Tinggi, Pendidikan dan pelatihan lainnya.
Suatu hal yang belum menggembirakan adalah bahwa kreativitas tenaga pendidik belum berkembang secara baik, karena terlalu ketatnya administrator atau pengelolaan pendidikan, baik yang ada di tingkat nasional maupun yang ada di daerah.
Dana pendidikan juga merupakan factor utama yang sangat menetukan kualitas dan keberhasilan pendidikan. Proses pendidikan yang masih lemah adalah aspek koordinasi antara intansi Pembina terkait dan kekuatan administrasi penyelenggara pendidikan, dari mulai pendirian dan evaluasi/akreditasi sampai pada pembinaan aluminya, sehingga otonomi pendidikan belum berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Berpikir mengenai manajemen dalam penyelenggaraan pendidikan, lebih merupakan kombinasi analisis rasional berdasarkan pemikiran yang nyata dan integrasi imajinasi dari hal-hal yang berbeda kedalam pola baru, dengan menggunakan Nonlinier Brain Power. Dalam kontek perencanaan pendidikan berpikir manajemen menunjukan prespektif sedangkan perencanaan menunjukan jangka panjang menunjukan posisi, dan perencanaan teknis menunjukan kinerja.
Dalam menyelenggarakan pendidikan setidaknya harus memiliki keterampilan berpikir stratejik yang terintegral mencakup: Berpikir secara analistik, numerik, Replektif, imajinatif, visiualitatif, kreatif, kritis, empirik, empatik, etik, pragmatik, dan politik dan pleksibel.
Pendidikan mencakup upaya peningkatan kemampuan melalui perubahan yang diharapkan, prosesnya antara lain melalui pembelajaran alam hal menggerakan kemampuan orang lain kearah pencapaian tujuan penyelenggaraan pendidikan.
Dalam pembelajaran gaya teaching dapat diadopsi manakala situasi telah memungkinkan jawaban kongkrit atas masalah, sedangkan gaya learning sangat penting bila berhadapan dengan pilihan-pilihan opsi tindakan.
Pendapat Jetendra, “Bentuk pembelajaran yang paling efektif dari pelatihan tingkat senior, biasanya pembelajaran aktif secara lebih partisipatif dan banyak diskusi. Pembelajaran pokok dikembangkan dari pertanyan dan pemecahan masalah dari study kasus (case)yan hidup nyata dan detail”.
Sedangkan Damle (1989 : 5), Mengemukakan bahwa kasus (case) dapat di gunakan dengan sebagai cara dan metoda yang berbeda, yang secara innovate dapat di kembangkan di kelas sesuai kebutuhan. Dua visi diantaranya adalah:
Pertama, ilusi kasus (case illustrations), mengunakan kasus untuk memberikan ilustrasi suatu hal yang bersifat teoritis, termasuk yang yang mengunakan sebagai cintoh untuk melengkapi penyajian dalam suatu ceremah.
Kedua, interaksi kasus (case interaction) yang menjadikan kasus sebagai interaksi pembelajaran, yang mencakup permasalahan kasus, penyajian kasus, dan permainan peran, serta proses kejadian.
Dari sebagian kasus tersebut metode kasus merupakan wujud pembelajaran dengangan pendekatan pembelajaran aktif di lihadt dari sudut pandangan peserta dan memberikan bobot peran aktif kepada pra peserta. Berbeda dengan aktif teaching, sekalipun menggunakan contoh ilustrasi kasus namun lebih menempatkan pandangan dari sudut pandangn pendidik dan tentunya memberikan bobot peran aktif kepada pendidik.
B. Model membangun karakter SDM pendidik
Pendidik merupakan pemern utama dalam pendidikan dihadapan anak didiknya ia harus mempunyai sifat-sifat ang di sukai oleh anak didiknya maka dengan demikian ia harus ramah hal ini dapat di bagi kepada beberapa sifat seperti sifat akal, kebersihan akhlak, kebersihan badan.
a. Sifat-sifat Akal

1. Persiapan yang cerdas/jenius: diwajibkan kepada siapa saja yang ingin menggeluti pekerjaan ini harus mempunyai kecerdasan dalam pengajaran, sehingga dapat meyakinkan kepada anak didik, dengan persiapan-persiapan itu sehingga dapat membantunya dan membantu setiap anak didik yang ada dalam didikannya.
2. Mempunyai akal yang sehat, artinya ia harus cepat paham, cepat berfikir, benar dan cepat dalam memberikan pengamatan dengan daya fikir yangkuat.
3. Kaya dengan persiafan; maka bagi pendidik harus kaya dengan persiapan, sehingga ia dapat mengendalikan keadaan kelas dengan baik, dan menghentikan gaduh di kelas dengan sumber daya pengawasan yang telah dipersiapkannya.

Hal ini dikarenakan kecerdasan mengendalikan anak didik merupakan keharusan yang harus dimiliki oleh sumber daya manusia pendidik, sehingga pengajaran dapat diterima oleh anak didik dengan khusu dan benar, yang akan bermanpaat bagi anak didiknya.


b. Kebersihan akhlak
Bilamana ada pendidik yang mempunyai banyak kesalahan maka bisakah ia mentransper akhlakul karimah kepada anak didiknya? Maka dengan itu pendidik harus menjadi orang yang terbaik di setiap pekerjaannya, perkataannya, dan setiap geraknya, disini maka apabila ada kelemahan yang dimiliki oleh pedidik maka tidak akan bisa luput dari pengawasan anak didiknya, yang mana hal tersebut dapat mengurangi respek anak didik kita tatkala kita menjadi pendidik.
Dengan demikian diwajibkan kepada setiap pendidik untuk berijtihad agar segala kekurangan kita dapat ditutupi dengan cara;
1. Murah senyum; penuh kasih saying didalam muamalah dengan anak didik kita. Karena dengan kasih saying yang kita berikan kepada anak didik maka akan timbul rasa suka dari peserta didik, yang akan membuat muahnya pelajaran kita di terima oleh anak mereka.

2. Syabar; maka sukseslah bagi pendidik dalam pekerjaannya, atas kudrat yang dimilikinya sebagai pendidik yang syabar.
Maka sempitnya pendidik apabila kehilangan kesabarannya ketika dihadapkan terhadap anak didiknya, sehingga sebagai educator ia tidak laluasa seenaknya hati kecuali bicara untuk peningkatan dan kemajuan anak didiknya hal ini hanya bisa diatasi dengan kesabaran.

3. Baik dalam perkataannya, perhatin dan penuh semangat; maka bagi pendidik yang malas tidak di inginkan oleh anak didiknya yang cerdas atau yang mempunyai kesemangatan. Sebagai mana ia diwajibkan untuk memberi semangat kepada anak didiknya terutama kepada murid yang lemah yang selalu harus kelihatan berwibawa yang bisa memberikan motivasi baginya.

4. Harus mempunyai suara yang jelas; sehingga dapat memberikan pengaruh dengan jelas dan tepat pula, serta suaranya tidak memudaratkan, dengan demikian di dalam penyampayan harus menggunakan suara yang keras dan terang.

5. Harus mempunyai mata yang peka; dapat melihat semua gerakan yang ada di kelas sehinga dapat menghentikan semua yang akan menyebabkan rusaknya pengajaran di kelas. Maka dengan itu ia harus memelihara penglihatannya dan memperbaiki perkataannya dengan gerakan tangan serta kalau bisa dengan berdiri.

c. Kebersihan jasmani

1. Sehat badan dan kuat badannya; maka dari pada itu ia harus sempurna penglihatannya dan pendengarannya, agar badannya sehat dan kuat ia harus cukup dan teratur tidurnya, olahraganya, makan dan minumnya, dsb.
2. Bersih badannya; misalnya rambutna rapih, pakaiannya bersih dan rapih.
3. Bersih dari perkataan yang dapat menghinakannya.
Itu semua merupakan karakter yang harus selalu dibangun oleh pendidik agar tujuan pendidikan bisa tercapai. Membangun karakter sumberdaya Manusia (SDM), pendidik dalam kontek pendidikan selalu adanya perbedaan pendapat, namun pada dasarnya perbedaan tersebut sebagai upaya dalam meningkatkan kinerja pendidik, melalui peruses pembelajaran yang dapat diterapkan merubah cara berfikir, sikap tindakan, untuk meningkatkan/membangun kualitas SDM manusia pendidikan khususnya pendidik itu sendiri.
Membangun karakter kualitas sumberdaya manusia pendidik dan kependidikan dapat melalui berbagai cara;
1. Informasi melalui ceramah dan diskusi
2. Kemampuan pendidik dan pelatih
3. Pendidik yang propesional, dan selalu belajar
4. Prasarana dan sarana yang menunjang
5. Pembelajaran dengan study kasus
Pembelajaran dan pelatihan yang efektif biasanya pembelajaran aktif secara lebih partisifatif dan banyak diskusi. Pembelajaran dalam diklat banyak dikembangkan dari pertanyaan dan pemecahan masalah dengan menggunakan studi kasus atau tema diklat yang hidup, nyata dan orentasi ke dalam.
Sedangkan untuk membangun karakter SDM pendidik dapat dikembangkan sesuai program:
1. Menggunakan kasus (cara ilustrasi), untuk ilustrasinya menggunakan teori-teori memperkuat atau melengkapi penyajian sebagai pembanding.
2. Adanya interaksi kasus dalam diklat mencakup permasalahan penyajian permainan peran dan proses kejadian.
Untuk model pendekatan membangun karakter SDM Pendidik dapat di lihat dari aspek gaya pembelajaran metoda dan penyajian dalam dua model:
1. Pasive learning, metode menggunakan kasus sebagai basis interaksi pembelajaran, biasanya actual mempunyai bobot kegunaan dan kedepan.
2. Aktive teaching, metode ceramah dan menempatkan materi kasus. Sebagai contoh (ilustratif), proses pembelajaran secara konvensional.
Sedangkan membangun dan menganalisis sumber daya manusia pendidik dapat dikelompokan menjadi tiga cara:
1. Philosopihic, yaitu cara mendalami berpikir dan alat untuk mencapai/memperoleh ilmu pengetahuan dan pengertian, serta pengembangan ilmunya.
2. Sprinted, aspek kejiwaan manusia sebagai pendidik untuk memperkuat, mencapai obsesinya, dan mencapai ambisinya dengan kemampuan secara iklas.
3. Appetie, yaitu untuk memenuhi selera, seperti: kebutuhan makan’ minum, sandang, pangan, uang dan sebagainya.
Membangun diri sebagai pendidik adalah proses yang berlangsung seumur hidup, yang bermakna manakala didasarkan pada hati nurani, berupa kemampuan, motive sendiri, dan bukan karena terpaksa, atau didorong atau direkayasa karena pengaruh lingkungan. Setiap permasalahan yang dihadapinya harus dilihat bukan hanya dengan mata pisik saja melainkan mata pikiran dan yang paling utama mata hati.
Keberhasilan tenaga pendidik karena tidak pernah berhenti berjuang pada saat menghadapi masalah, pengembangan dapat dilakukan melalui bakat, obsesi, tujuan, peningkatan rasa percaya diri, komunikasi yang baik , kuat dalam menghadapi krisis, peka terhadap diri sendiri maupun orang lain atau peserta didik dan mempercayai suara hatinya.



c. Standar kependidikan
Semua hal yang dapat mendukung agar pendidikan itu dapat berjalan sesuai degan tujuan pendidikan, hal ini meliputi;
1. Harus adanya anak didik dan pendidik; tanpa adanya anak didik dan pendidik tak mungkin adanya pendidikan, hal ini merupakan hal yang utama.
2. Mempunyai materi; sesuatu yang akan diberikan kepada anak didik. Maka keadaan materi harus:
i. Materi yang akan disampaikan harus sesuai dengan keadaan jaman.
ii. Materi harus dapat memberikan manpaat bagi anak didiknya.
iii. Materi harus sesuai dengan anak didiknya.
iv. Materi yang diberikan harus materi yang terpilih/terbaik agar memberikan manpaat bagi anak didiknya.
v. Materi harus tersusun rapih sesuai dengan susunannya sehingga mudah di cerna oleh akal anak didiknya.
3. Mempunyai metode pengajaran
4. Adanya sarana dan prasarana an apat menunjan berlangsungnya pendidikan. Ini merupakan pengalaman yang nyata apabila ada suatu lembaga pendidikan mempunyai sarana yang megah maka anggapan orang di sekitarnya bahwa lembaga tersebut mempunyai yang mapan (bona’fide), walaupun mereka tidak tahu keaan lembaga itu dengan sebenarnya.
Dengan demikian lembaga tersebut akan dengan mudahnya mendapatkan anak didiknya dan begitu pula apabila keadaan lembaga itu kumuh, tentuya lembaga tersebut sulit sekali mendapat kepercayaan dan mendapatkan anak didiknya.
Semuanya ini baik yang bonafide ataupun yang kumuh bisa dinamakan lembaga pendidikan, sekolah atau madrasah mereka tidak melayani yang lain kecuali untuk pendidikan.
5. Mengetahui kewajiban-kewajiban lembaga pendidikan, seperti:
- Harus adanya taaruf (muamalat) antara pihak sekolah dengan orang tua agar dapat memudahkan pengawasan anak didiknya.
- Memberi nasihat (malumat) kepada kedua orang tuannya dengan kaidah-kaidah (metode) yang benar yang mengharuskan kedua pihak (orang tua dan pendidik) ikut serta dalam mendidik anaknya.
- Memberikan keterangan laporan yang berbentuk tulisan kepada orang tua anak didik mengenai keadaan anak didik di sekolah.
- Memberikan keputusan kepada orang tua murid mengenai prestasi yang telah dicapai oleh anak didiknya.
- Jangan sampai melindungi anak didik dari kejanggalan-kejanggalan yang telah diperbuatnya. Example: dibuatkan berita yang baik-baiknya saja padahal tidak baik.
- Hendaknya sekolah mengajarar sesuai dengan kebutuhan anak didik dalam kehidupan sehari-hari sehingga sangat membantu sekali terhadap anak didik ketika ia sudah keluar dari pendidikannya.
6. Keadaan orang tua murid
- Mendukung pendidikan sekolah sehigga ia membuat peraturan rumah seperti pereturan sekolah. Dan tidak adanya nasihat yang akan meremehkan keadaan madrasah/sekolah yang akan mengakibatkan jeleknya pendidikan rumah untuk madrasah.
- Tidak adanya penyerangan atas kebijakan sekolah atau madrasah, dengan demikian tidak boleh bagi orang tua melarang pendidik yang sedang berlangsung.
- Orang tua harus menjauhkan diri darimsifat yang dapat mengecilkan kedudukan sekolah apalagi menghinakannya.
- Peka terhadap keadaan anaknya mengenai kekuatannya, sehingga ia harus memperhatikan anaknya dari makan dan minumnya, tempat tinggalnya, keinginannya, terutama bakatnya, dsb.
Namun yang getren pada saat ini guru-guru yang ada pada setiap lembaga pendidikan dianjur kan untuk membuat curhatan hati disetiap selesai pengajaran yang dikenal dengan sebutan case study yang gunanya untuk bahan perenungan kekurangan kekurangan atau permasalahan-permasalahan yang harus di perbaiki agar kompetensi guru yang bersangkutan dapat meningkat.
Mengapa demikian?... Karena dengan demikian kita dapat atau para guru dapat ;
a. Mengidentifikasi masalah pembelajaran yang sudah berlangsung
b. Memilih masalah pembelajaran yang akan diangkat sebagai bahan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
c. Menganalisis masalah pembelajaran yang akan di PTK kan
d. Menyusun kalimat Rumusan masalah PTK
e. Dan menganalisis bacaan secara kritis



Ini semua bila kita sering menggunakan/menuliskan Case Study maka dengan mudahnya membuat PTK. Dan meningkatlah kompetensi guru, meningkatlah kualitas pendidikan. Tentunya bila semuanya sadar akan hal kewajiban bagi seorang guru yang harus selalu mempersiapkan dirinya lebih baik dari pada anak didiknya.
Hingga semua perbuatannya, perkataannya, dan diamnya dapat di pandang baik dan bermanfaat oleh anak didiknya lingkungannya dan semua orang yang mengenalnya tidak akan meragukan akan kebaikan yang ada padanya.
Itulah model guru yang baik yang semuanya itu harus di ikuti oleh kita semua, tidak mungkin seorang pendidik bisa maju dalam manajemen pendidikannya bila tidak tahu kewajiban untuk pengembangan dirinya, kewajiban terhadap anak didiknya, kewajiban terhadap orang tua anak didiknya, kewajiban terhadap atasannya, dan yang paling utama adalah kewajiban yang telah dianugrahkan oleh Tuhannya, yaitu Allah Swt.








DAFTAR PUSTAKA
Muhamad Yunus, 1991, Tarbiyatul wa Talim, KMI Gontor, Darussalam.
Prof. Dr. Ermaya Suradinata, 2008. Strategi Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Pendidik. Lembaga Ketehanan Nasional R.I.
Prof. Dr. Sodang P. Siagian, MPA, 2007, Managemen Sumber Daya Manusia, Bumi Aksara
Prof. Dr. Omar Hamalik , 2005, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, Bumi Aksara.
Iwayan, A.S.S.Si., 2009, Penelitian Tindakan Kelas, Az-Zahra dise 8.

Kajian Kritis Guru Ideal Dalam Otaku



Kajian Kritis Guru Ideal Dalam Otaku
By Jaya Mulya, S.Ag
Di sini anak didik yang menangapi tentang pengertian guru ideal adalah guru yang disukai muridnya, namun saya sebagai guru juga telah menjadi siswa bahkan sampai sekarang saya masih mengenyam pendidikan merasakan, pernah merasakan seperti itu tetapi sebenarnya tidak selamanya guru yang disukai itu ideal mengapa demikian karena sering sekali saya melihat ada guru yang disukai anak didiknya bukan karena dia ideal melainkan karena ia adalah seorang guru yang menghalalkan segala cara artinya asal anak didiknya merasa senang ia suka memberikan bocoran atau member tahu diwaktu tes ujian, udah tentu seorang murid akan lebih mendekati dia dari pada guru yang mempunyai idealism karena ia tak mungkin membocorkan dan memberi tahu anak didiknya yang bertanya ketika ujian.
Bisa di perbandingkan loh!, mana yang paling disukai oleh anak yang suka member bocoran atau yang tidak suka member bocoran? Guru yang suka mencari perhatian anak didiknya atau yang mempertahankan idealismnya?
Dari dua pertanyaan tersebut saya yakin anak akan lebih cenderung kepada yang suka menolongnya diwaktu ujian dari pada guru yang sama sekali tidak menolongnya diwaktu ujian maka, juga anak tidak lebih menyukai kepada guru yang cuek ketika dipinta pertolongan waktu ujian, bahkan ia akan berkata, “Pa bapamah meni koret”, yang artinya guru itu dianggap pelit oleh anak didiknya tatkala mempertahankan idialismnya, yang merupakan kewajiban semua guru untuk mempertahankannya karena murid ada waktunya untuk bertanya bukan diwaktu murid sedang ujian.
Dalam mamasalah yang lain saya pun bisa memaparkan seorang guru yang disukai oleh anak didiknya karena ia suka mengabulkan semua keinginan anak didiknya, Contoh:
Ada anak didik yang minta pulang sebelum waktunya padahal masih 15 menit untuk waktu pulang ia pulangkan bila minta jajan dijajanin bila waktu ujian menberi tahu jawaban maka guru yang seperti ini kelihatannya lebih diminati oleh siswa untuk didekati dan disukai. Padahal dalam hal mengajar cukup ia memberikan tugas dan pergi dari kelas bahkan kalau ada ia ngantuk dikelas saya pernah melihat guru yang seperti ini walaupun akhirnya ia dikeluarkan dari sekolah karena banyak perbuatan yang tidak senonoh.
Dengan demikian saya tidak setuju kalau dinyataka guru ideal adalah guru yang disukai oleh anak didiknya. Dalam hal ini saya akan memaparkan tentang guru yang disebut killer oleh siswa, guru ini dating tepat waktu, tugas tidak boleh tida harus dikerjakan, bila didapat ada siswa yang tidak melaksanakannya langsung dikeluarkan darim kelas sebelum melaksanakan tugasnya bahkan kalau perlu langsung pemberitahuan pada orang tuanya (wali murid) pelajaran harusbisa bagi anak yang tidak mendengarkan dan tidak bisa pasti adanya hukuman dan penugasan. Guru yang seperi ini banyak mambantu terhadap peningkatan kualitas siswa namun apakah yang seperti ini akan menjadi idola bagi anak didiknya? Tentu jawabanya No karena guru yang seperti ini disebutnya juga guru si killer. Namun mereka hanya bisa bicara dibelakang layar beserta anak didik yang lain.
aulis
Maka kata ideal bagi guru itu keadaanya relative, tergantung siapa yang menilai ilmuan atau anak didik, masyarakat, guru atau dari sisimana mereka memandang. Jawaban mereka tentunya mempunyai jawaban yang berbeda-beda.
Dalam hal ini perlu adanya kajian yang lebih mendalam sehingga semua orang setuju akan pengertian guru ideal, tidak cukup dipandang dari satu arah saja banyak factor yang harus dilihat, misalnya dari sudut tugas dan kewajiban seorang guru, termasuk prilaku, cara atau metode pengajarannya, sumberdaya yang dimilikinya, kehidupan sehari-harinya dan lain sebagainya. Kalau dikatakan guru suatu sosok yang harus digugu dan ditiru maka semua aspek yang berkenaan dengan guru benar benar harus selaras dengan norma-norma yang ada ini merupakan suatu beban yang nyata yang harus dipikul oleh guru.
Namun siapa saja yang propesinya sebagai guru jangan putus asa walau pun toh kita jatuh kepada sosok yang tidak disukai oleh siswanya asalkan kita benar sesuai dengan norma-norma dan peraturan yang ada. Kita sebagai guru walau pun kurang dihargai, seperti halnya guru bahasa Inggris, bahasa Arab, Matematik, Fisika dsb. yang mana mayoritas pelajaran-pelajaran ini adalah pelajaran yang tidak disukai oleh anak didik dan jarang sekali gurunya dianggap guru ideal, mengapa demikian? Karena apabila anak sudah tidak menyukai pelajarannya gurunya pun mesti tidak disukai terbawa dengan rasa putus asanya anak, yang merasa sulit sebelum belajar. Kejadian ini sama halnya dengan orang kampung yang mau pergi ketempat jauh dengan menggunakan kendaraan, ia akan mabuk sebelum berangkat hingga ia memerlukan obat untuk menopangnya agar bisa berangkat pakai kendaraan, ternyata sering sekali saya mendapatkan kejadian yang seperti ini, karena saya telah menanya kepada anak secara langsung mengapa kamu tidak menyukai pelajaran ini mereka menjawab: “Susah pak” belum apa apa sudah merasa susah! lalu ia senyum malu kejadian ini sungguh sering terjadi.
Maka dari urayan diatas saya menyatakan kurang setuju bilamana dikatakan guru ideal adalah guru yang disukai anak atau siswanya, karena masih banyak factor yang menyebabkan anak itu suka pada gurunya.
Ada lagi anak SMA yang bilang bahwa ia menyukai guru perempuan yang cantik dan seksi, itu menunjukan bukan kualitas pengajaran yang disukai anak tetapi kualitas tubuh yang mereka sukai, ini fakta nyata yang telah saya dengar dari anak yang melirik gurunya dari sudut kemolekan gurunya.
Guru Ideal Dalam Otakku
Ditulis Oleh:
Aulia Sabrina - Wartawan ZZ
June 3, 2009 · Print This Article
Memilki guru ideal pasti diinginkan setiap siswa, termasuk saya. Namun keidealan itu tidak serta merta bisa ditemukan pada setiap sosok guru karena berbagai hal yang parameternya antara siswa yang satu dengan yang lain tidak sama. Parameternya tergantung pada setiap siswa, tetapi pada dasarnya saya bisa menyimpulkan bahwa guru ideal adalah guru yang disukai muridnya. Yang perlu di perhatikan adalah yang disukai seorang siswa terhadap gurunya. Hal inilah yang sangat beraneka ragam. Ok, dibawah ini adalah obrolan opini yang saya tulis berdasarkan pengalaman dan beberapa cerita dari teman. Perlu saya sampaikan pada Ziggers bahawa obrolan opini ini tidak bermaksud menyudutkan, menyanjung siapa pun, bahkan membanding-bandingkan antara satu guru dengan yang lain. Hal ini lahir dari ketulusan hati yang saya rasakan selama menjalani proses belajar mengajar. Bagaimanakah guru ideal menurut saya dengan parameter yang saya anggap paling logis dan masuk akal.
Gelar sempurna dan ideal layaknya tak pantas diberikan pada seluruh makhluk di alam semesta beserta isinya ini, bahkan untuk seorang guru sekalipun. Hanya satu yang pantas menyandang gelar itu, Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tapi, manusia berhak menilai setiap apa yang telah ia dapat dalam hidup ini. Hanya menilai setiap apa yang dianggapnya cocok dan nyaman, apalagi penilaian seorang siswa seperti saya. Maaf Bapak/Ibu Guru, ini sekedar opini, tanpa ada maksud apa-apa. Sebab menulis opini adalah media untuk menajamkan pikiran, tidak lebih.
Di Indonesia telah dicanangkan wajib belajar 9 tahun, sebagaimana yang diatur dalam UU dan peraturan pemerintah. Mestinya di imbangi juga dengan pencanangan guru ideal, baik secara materi ataupun kemapuan/skill. Jika tidak, sia-sia rasanya wajib belajar 12 tahun di laksanakan. Saat ini pemerintah mulai memperhatikan dengan adanya program sertifikasi. Pertanyaannya, apakah sertifikasi sudah menyelesaikan masalah. Bagaimana menciptkan guru ideal untuk generasi millennium. Selama hampir 11 tahun saya mengenyam pendidikan, saya menemukan banyak karakter guru, semua memiliki kelebihan dan kekurangan.

Dalam waktu yang terbilang cukup lama itu, sulit rasanya menemukan sesosok pahlawan tanpa tanda jasa yang dapat melekat dalam hati sanubari. Namun berbeda, saat beranjak ke jenjang SMA saya menemukan sesosok pahlawan yang dapat memberi semangat baru dalam perjalanan menuntut ilmu. Mereka mampu memotivasi dan semangat bagi para siswa, memberi cahaya disetiap sel-sel otak yang kosong akan dengan ilmu pengetahuan. Itulah yang saya temukan di beberapa guru di sekolah ini. Seorang ahli bernama Gordon Stokes mengatakan “Delapan puluh persen kesulitan belajar berhubungan dengan stres. Singkirkan stres, maka Anda telah menyingkirkan berbagai kesulitan dalam belajar.” Pada awalnya hal itulah yang membuat banyak siswa, termasuk saya merasa malas belajar di sekolah ini. Apalagi pada materi baru, hal ini terlihat cukup rumit. Tetapi ada beberapa guru yang diawal pertemuan membukanya dengan dengan menceritakan hal-hal yang cukup menarik dan imajinatif, sehingga seluruh siswa dapat mengkhayal hal-hal yang menyenangkan dalam pelajaran yang ajarkan. Motivasi itulah yang ingin saya dapatkan dari seluruh guru, apapun itu pelajarannya, tentunya dengan cerita yang bisa memotivasi dan berhubungan dengan pelajaran yang saat itu akan diajarkan. Saya lebih suka metode pembelajaran yang sederhana namun harus kreatif dan atraktif. Ada guru-guru yang mampu membius otak kami, sehingga kami mampu merespon pelajaran dengan baik. Kalau harus menggunakan motode anak TK, SD, dan itu manjur untuk kami, mengapa tidak.Gaya santai, humoris dan menyenangkan adalah impian kami saat menerima pelajaran. Motode outbond pun bisa dipakai, sehingga bisa mempermudah, atau bisa menggunakan gambar-gambar, seperti yang sudah dilakukan oleh salah soerang Guru di sekolah ini. Hal itu ternyata tidak banyak menyulitkan banyak siswa, bahkan malah mempermudah siswa untuk cepat menghafal.

Bisa dibayangkan, jika setiap jam belajar berlangsung, beliau selalu memberikan berbagai pertanyaan. Pertanyaannya berupa gambar, lisan, ataupun gerak tubuh. Pertanyaan tersebut tidak hanya ditujukan oleh siswa-siswa tertentu, tapi dengan cara di drill pada semua siswa, tidak terkecuali. Itu menarik bagi saya. Ternyata teman-teman yang lain juga merasakan hal yang sama. Berarti motode semacam ini kami anggap sangat mujarab untuk kami.Selain motode tersebut, Bapak/Ibu Guru bisa nilai plus pada setiap siswa yang berani menjawab pertanyaan. Semakin mendapat banyak nilai plus, guru bisa memberikan penghargaan atau hadiah. Merayakan dengan member hadiah adalah hal yang sangat menyenangkan bagi kami para siswa. Sebaliknya, guru harus berani memberikan hukuman yang tegas pada kami yang tidak mengerjakan anjuran/tugas.

Perlu ada upaya dan metode serta inovasi pembelajaran sehingga semua indra bekerja. Hal ini akan bisa mengurangi kejenuhan, apalagi ngantuk saat pelajaran. Kadang-kadang guru perlu menciptakan suasana tegang dan cemas pada diri siswa, dengan kuis, atau main tunjuk pada siswa. Banyak cara yang dapat dilakukan seorang guru untuk para siswanya. Saya yakin guru-guru kami lebih berpengalaman dalam hal ini. Tapi inilah yang saya rasakan dan menjadi kerinduan kami. Untuk menjadi guru yang maju dan profesional, seperti yang saya ceritakan diatas. Tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi perlu membiasakan diri. Perlu saya tulis juga bahwa ada beberapa guru di SMAdaBO yang telah melakukan metode tersebut. Fakta itulah yang menjadi inspirasi saya menulis obrolan opini di ZZ ini.

Apa sebenarnya konsep yang bisa disimpulkan. Konsepnya adalah guru dapat menyenangkan siswanya melalui belajar. Hal ini seperti kata Peter Kline, seorang ilmuan, “Learning is most effective when it’s fun”. Selain itu, seorang guru harus sadar dan faham akan tugas-tugasnya sebagai pendidik. Sosok guru adalah sosok pahlawan dunia-akhirat yang harus mengabdikan dirinya untuk masyarakat dan Tuhan. Satu hal lain yang sangat penting dan sering terlupakan adalah membuat portofolio, yang berhubungan dengan prestasinya maupun pengalamannya dalam menjalankan tugas. Ini sebagai bukti otentik, dan bahan cerita pada anak didik tahun berikutnya. Apa efeknya untuk siswa. Saya meyakini dengan cerita-cerita dan bukti otentik keberhasilan para guru, kami para siswa akan lebih tergerak dan bersemanagat. Minimal keberhasilan mereka bisa masuk dalam otak kami dan menjadi imajinasi, dan hasilnya adalah angan-angan positif sehingga lahirlah cita-cita. Kondisi ini bisa menjadi obsesi kumpulsif bagi kami untuk mewujudkannya.

Seorang guru tidak boleh memihak atau mendiskriminasikan salah seorang siswanya. Guru harus mampu bersikap adil dan bijaksana dalam menentukan penyelesaian, mampu mendorong siswa hingga menemukan jalan yang terang dalam menyelesaikan masalahnya. Sesuai dengan kata Doktrin Mazhab Konstruktivisme bahwa “Pengetahuan itu tidak dapat ditransfer sebagaimana air dari teko dituangkan ke cangkir. Pengetahuan harus dibangun sendiri oleh murid. Murid bukan cangkir, melainkan tanaman. Guru bukan teko, melainkan penyiram air yang membuat tanaman itu tumbuh dan berkembang”.
By Jaya Mulya, S.Ag
Di sini anak didik yang menangapi tentang pengertian guru ideal adalah guru yang disukai muridnya, namun saya sebagai guru juga telah menjadi siswa bahkan sampai sekarang saya masih mengenyam pendidikan merasakan, pernah merasakan seperti itu tetapi sebenarnya tidak selamanya guru yang disukai itu ideal mengapa demikian karena sering sekali saya melihat ada guru yang disukai anak didiknya bukan karena dia ideal melainkan karena ia adalah seorang guru yang menghalalkan segala cara artinya asal anak didiknya merasa senang ia suka memberikan bocoran atau member tahu diwaktu tes ujian, udah tentu seorang murid akan lebih mendekati dia dari pada guru yang mempunyai idealism karena ia tak mungkin membocorkan dan memberi tahu anak didiknya yang bertanya ketika ujian.
Bisa di perbandingkan loh!, mana yang paling disukai oleh anak yang suka member bocoran atau yang tidak suka member bocoran? Guru yang suka mencari perhatian anak didiknya atau yang mempertahankan idealismnya?
Dari dua pertanyaan tersebut saya yakin anak akan lebih cenderung kepada yang suka menolongnya diwaktu ujian dari pada guru yang sama sekali tidak menolongnya diwaktu ujian maka, juga anak tidak lebih menyukai kepada guru yang cuek ketika dipinta pertolongan waktu ujian, bahkan ia akan berkata, “Pa bapamah meni koret”, yang artinya guru itu dianggap pelit oleh anak didiknya tatkala mempertahankan idialismnya, yang merupakan kewajiban semua guru untuk mempertahankannya karena murid ada waktunya untuk bertanya bukan diwaktu murid sedang ujian.
Dalam mamasalah yang lain saya pun bisa memaparkan seorang guru yang disukai oleh anak didiknya karena ia suka mengabulkan semua keinginan anak didiknya, Contoh:
Ada anak didik yang minta pulang sebelum waktunya padahal masih 15 menit untuk waktu pulang ia pulangkan bila minta jajan dijajanin bila waktu ujian menberi tahu jawaban maka guru yang seperti ini kelihatannya lebih diminati oleh siswa untuk didekati dan disukai. Padahal dalam hal mengajar cukup ia memberikan tugas dan pergi dari kelas bahkan kalau ada ia ngantuk dikelas saya pernah melihat guru yang seperti ini walaupun akhirnya ia dikeluarkan dari sekolah karena banyak perbuatan yang tidak senonoh.
Dengan demikian saya tidak setuju kalau dinyataka guru ideal adalah guru yang disukai oleh anak didiknya. Dalam hal ini saya akan memaparkan tentang guru yang disebut killer oleh siswa, guru ini dating tepat waktu, tugas tidak boleh tida harus dikerjakan, bila didapat ada siswa yang tidak melaksanakannya langsung dikeluarkan darim kelas sebelum melaksanakan tugasnya bahkan kalau perlu langsung pemberitahuan pada orang tuanya (wali murid) pelajaran harusbisa bagi anak yang tidak mendengarkan dan tidak bisa pasti adanya hukuman dan penugasan. Guru yang seperi ini banyak mambantu terhadap peningkatan kualitas siswa namun apakah yang seperti ini akan menjadi idola bagi anak didiknya? Tentu jawabanya No karena guru yang seperti ini disebutnya juga guru si killer. Namun mereka hanya bisa bicara dibelakang layar beserta anak didik yang lain.
Maka kata ideal bagi guru itu keadaanya relative, tergantung siapa yang menilai ilmuan atau anak didik, masyarakat, guru atau dari sisimana mereka memandang. Jawaban mereka tentunya mempunyai jawaban yang berbeda-beda.
Dalam hal ini perlu adanya kajian yang lebih mendalam sehingga semua orang setuju akan pengertian guru ideal, tidak cukup dipandang dari satu arah saja banyak factor yang harus dilihat, misalnya dari sudut tugas dan kewajiban seorang guru, termasuk prilaku, cara atau metode pengajarannya, sumberdaya yang dimilikinya, kehidupan sehari-harinya dan lain sebagainya. Kalau dikatakan guru suatu sosok yang harus digugu dan ditiru maka semua aspek yang berkenaan dengan guru benar benar harus selaras dengan norma-norma yang ada ini merupakan suatu beban yang nyata yang harus dipikul oleh guru.
Namun siapa saja yang propesinya sebagai guru jangan putus asa walau pun toh kita jatuh kepada sosok yang tidak disukai oleh siswanya asalkan kita benar sesuai dengan norma-norma dan peraturan yang ada. Kita sebagai guru walau pun kurang dihargai, seperti halnya guru bahasa Inggris, bahasa Arab, Matematik, Fisika dsb. yang mana mayoritas pelajaran-pelajaran ini adalah pelajaran yang tidak disukai oleh anak didik dan jarang sekali gurunya dianggap guru ideal, mengapa demikian? Karena apabila anak sudah tidak menyukai pelajarannya gurunya pun mesti tidak disukai terbawa dengan rasa putus asanya anak, yang merasa sulit sebelum belajar. Kejadian ini sama halnya dengan orang kampung yang mau pergi ketempat jauh dengan menggunakan kendaraan, ia akan mabuk sebelum berangkat hingga ia memerlukan obat untuk menopangnya agar bisa berangkat pakai kendaraan, ternyata sering sekali saya mendapatkan kejadian yang seperti ini, karena saya telah menanya kepada anak secara langsung mengapa kamu tidak menyukai pelajaran ini mereka menjawab: “Susah pak” belum apa apa sudah merasa susah! lalu ia senyum malu kejadian ini sungguh sering terjadi.
Maka dari urayan diatas saya menyatakan kurang setuju bilamana dikatakan guru ideal adalah guru yang disukai anak atau siswanya, karena masih banyak factor yang menyebabkan anak itu suka pada gurunya.
Ada lagi anak SMA yang bilang bahwa ia menyukai guru perempuan yang cantik dan seksi, itu menunjukan bukan kualitas pengajaran yang disukai anak tetapi kualitas tubuh yang mereka sukai, ini fakta nyata yang telah saya dengar dari anak yang melirik gurunya dari sudut kemolekan gurunya.
Guru Ideal Dalam Otakku
Ditulis Oleh:
Aulia Sabrina - Wartawan ZZ
June 3, 2009 · Print This Article
aulisMemilki guru ideal pasti diinginkan setiap siswa, termasuk saya. Namun keidealan itu tidak serta merta bisa ditemukan pada setiap sosok guru karena berbagai hal yang parameternya antara siswa yang satu dengan yang lain tidak sama. Parameternya tergantung pada setiap siswa, tetapi pada dasarnya saya bisa menyimpulkan bahwa guru ideal adalah guru yang disukai muridnya. Yang perlu di perhatikan adalah yang disukai seorang siswa terhadap gurunya. Hal inilah yang sangat beraneka ragam. Ok, dibawah ini adalah obrolan opini yang saya tulis berdasarkan pengalaman dan beberapa cerita dari teman. Perlu saya sampaikan pada Ziggers bahawa obrolan opini ini tidak bermaksud menyudutkan, menyanjung siapa pun, bahkan membanding-bandingkan antara satu guru dengan yang lain. Hal ini lahir dari ketulusan hati yang saya rasakan selama menjalani proses belajar mengajar. Bagaimanakah guru ideal menurut saya dengan parameter yang saya anggap paling logis dan masuk akal.
Gelar sempurna dan ideal layaknya tak pantas diberikan pada seluruh makhluk di alam semesta beserta isinya ini, bahkan untuk seorang guru sekalipun. Hanya satu yang pantas menyandang gelar itu, Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tapi, manusia berhak menilai setiap apa yang telah ia dapat dalam hidup ini. Hanya menilai setiap apa yang dianggapnya cocok dan nyaman, apalagi penilaian seorang siswa seperti saya. Maaf Bapak/Ibu Guru, ini sekedar opini, tanpa ada maksud apa-apa. Sebab menulis opini adalah media untuk menajamkan pikiran, tidak lebih.
Di Indonesia telah dicanangkan wajib belajar 9 tahun, sebagaimana yang diatur dalam UU dan peraturan pemerintah. Mestinya di imbangi juga dengan pencanangan guru ideal, baik secara materi ataupun kemapuan/skill. Jika tidak, sia-sia rasanya wajib belajar 12 tahun di laksanakan. Saat ini pemerintah mulai memperhatikan dengan adanya program sertifikasi. Pertanyaannya, apakah sertifikasi sudah menyelesaikan masalah. Bagaimana menciptkan guru ideal untuk generasi millennium. Selama hampir 11 tahun saya mengenyam pendidikan, saya menemukan banyak karakter guru, semua memiliki kelebihan dan kekurangan.

Dalam waktu yang terbilang cukup lama itu, sulit rasanya menemukan sesosok pahlawan tanpa tanda jasa yang dapat melekat dalam hati sanubari. Namun berbeda, saat beranjak ke jenjang SMA saya menemukan sesosok pahlawan yang dapat memberi semangat baru dalam perjalanan menuntut ilmu. Mereka mampu memotivasi dan semangat bagi para siswa, memberi cahaya disetiap sel-sel otak yang kosong akan dengan ilmu pengetahuan. Itulah yang saya temukan di beberapa guru di sekolah ini. Seorang ahli bernama Gordon Stokes mengatakan “Delapan puluh persen kesulitan belajar berhubungan dengan stres. Singkirkan stres, maka Anda telah menyingkirkan berbagai kesulitan dalam belajar.” Pada awalnya hal itulah yang membuat banyak siswa, termasuk saya merasa malas belajar di sekolah ini. Apalagi pada materi baru, hal ini terlihat cukup rumit. Tetapi ada beberapa guru yang diawal pertemuan membukanya dengan dengan menceritakan hal-hal yang cukup menarik dan imajinatif, sehingga seluruh siswa dapat mengkhayal hal-hal yang menyenangkan dalam pelajaran yang ajarkan. Motivasi itulah yang ingin saya dapatkan dari seluruh guru, apapun itu pelajarannya, tentunya dengan cerita yang bisa memotivasi dan berhubungan dengan pelajaran yang saat itu akan diajarkan. Saya lebih suka metode pembelajaran yang sederhana namun harus kreatif dan atraktif. Ada guru-guru yang mampu membius otak kami, sehingga kami mampu merespon pelajaran dengan baik. Kalau harus menggunakan motode anak TK, SD, dan itu manjur untuk kami, mengapa tidak.Gaya santai, humoris dan menyenangkan adalah impian kami saat menerima pelajaran. Motode outbond pun bisa dipakai, sehingga bisa mempermudah, atau bisa menggunakan gambar-gambar, seperti yang sudah dilakukan oleh salah soerang Guru di sekolah ini. Hal itu ternyata tidak banyak menyulitkan banyak siswa, bahkan malah mempermudah siswa untuk cepat menghafal.

Bisa dibayangkan, jika setiap jam belajar berlangsung, beliau selalu memberikan berbagai pertanyaan. Pertanyaannya berupa gambar, lisan, ataupun gerak tubuh. Pertanyaan tersebut tidak hanya ditujukan oleh siswa-siswa tertentu, tapi dengan cara di drill pada semua siswa, tidak terkecuali. Itu menarik bagi saya. Ternyata teman-teman yang lain juga merasakan hal yang sama. Berarti motode semacam ini kami anggap sangat mujarab untuk kami.Selain motode tersebut, Bapak/Ibu Guru bisa nilai plus pada setiap siswa yang berani menjawab pertanyaan. Semakin mendapat banyak nilai plus, guru bisa memberikan penghargaan atau hadiah. Merayakan dengan member hadiah adalah hal yang sangat menyenangkan bagi kami para siswa. Sebaliknya, guru harus berani memberikan hukuman yang tegas pada kami yang tidak mengerjakan anjuran/tugas.

Perlu ada upaya dan metode serta inovasi pembelajaran sehingga semua indra bekerja. Hal ini akan bisa mengurangi kejenuhan, apalagi ngantuk saat pelajaran. Kadang-kadang guru perlu menciptakan suasana tegang dan cemas pada diri siswa, dengan kuis, atau main tunjuk pada siswa. Banyak cara yang dapat dilakukan seorang guru untuk para siswanya. Saya yakin guru-guru kami lebih berpengalaman dalam hal ini. Tapi inilah yang saya rasakan dan menjadi kerinduan kami. Untuk menjadi guru yang maju dan profesional, seperti yang saya ceritakan diatas. Tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi perlu membiasakan diri. Perlu saya tulis juga bahwa ada beberapa guru di SMAdaBO yang telah melakukan metode tersebut. Fakta itulah yang menjadi inspirasi saya menulis obrolan opini di ZZ ini.

Apa sebenarnya konsep yang bisa disimpulkan. Konsepnya adalah guru dapat menyenangkan siswanya melalui belajar. Hal ini seperti kata Peter Kline, seorang ilmuan, “Learning is most effective when it’s fun”. Selain itu, seorang guru harus sadar dan faham akan tugas-tugasnya sebagai pendidik. Sosok guru adalah sosok pahlawan dunia-akhirat yang harus mengabdikan dirinya untuk masyarakat dan Tuhan. Satu hal lain yang sangat penting dan sering terlupakan adalah membuat portofolio, yang berhubungan dengan prestasinya maupun pengalamannya dalam menjalankan tugas. Ini sebagai bukti otentik, dan bahan cerita pada anak didik tahun berikutnya. Apa efeknya untuk siswa. Saya meyakini dengan cerita-cerita dan bukti otentik keberhasilan para guru, kami para siswa akan lebih tergerak dan bersemanagat. Minimal keberhasilan mereka bisa masuk dalam otak kami dan menjadi imajinasi, dan hasilnya adalah angan-angan positif sehingga lahirlah cita-cita. Kondisi ini bisa menjadi obsesi kumpulsif bagi kami untuk mewujudkannya.

Seorang guru tidak boleh memihak atau mendiskriminasikan salah seorang siswanya. Guru harus mampu bersikap adil dan bijaksana dalam menentukan penyelesaian, mampu mendorong siswa hingga menemukan jalan yang terang dalam menyelesaikan masalahnya. Sesuai dengan kata Doktrin Mazhab Konstruktivisme bahwa “Pengetahuan itu tidak dapat ditransfer sebagaimana air dari teko dituangkan ke cangkir. Pengetahuan harus dibangun sendiri oleh murid. Murid bukan cangkir, melainkan tanaman. Guru bukan teko, melainkan penyiram air yang membuat tanaman itu tumbuh dan berkembang”.